Live42day’s Weblog

April 16, 2008

DANA BLBI: KEBIJAKAN NEGARA YANG BERUJUNG PADA KERUGIAN RAKYAT

Diarsipkan di bawah: propaganda — live42day @ 7:17 pm

Hakhak…akhirnya ujian perio selesai sudah! Btw dah lama yah saiah ngga nulis blog lagih, lagi ngga mood nulis niy…ngga ada ide!

Berhubung sekarang lagi anget-angetnya aktivis kampus pada aksi turun ke jalan memperjuangkan kepentingan rakyat, gimana kalo dalam post saiah kali ini juga diusung tema yang sama? Actually bukan tulisan saiah siy, lebih tepatnya lagi saiah tulis ulang artikel anak pusgerak BEM UI hehehe! cz saiah pikir kamu juga perlu tau tentang issue yang lagi inn sekarang ini, semoga bermanfaat ^^

DANA BLBI: KEBIJAKAN NEGARA YANG BERUJUNG PADA KERUGIAN RAKYAT

Pada pertengahan tahun 1997, perekonomian Indonesia mengalami guncangan hebat. Saat itu, nilai rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan yang cukup tajam. Kemudian BI melepas kendali atas naik turunnya nilai rupiah dan menyerahkannya kepada mekanisme pasar. Akibatnya pergerakan rupiah menjadi tidak terkendali.. sejak itu, kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan dan perbankan Indonesia semakin merosot sehingga banyak nasabah yang mengambil uang dalam jumlah banyak secara mendadak di perbankan. Hal ini berimbas kepada kondisi perbankan Indonesia. Demi mengatasi keadaan tersebut, BI mengucurkan bantual likuiditas kepada 48 bank. Tujuan dari pengucuran dana tersebut ialah untuk menjaga kestabilan sistem pembayaran agar penerimaan dan pembayaran dana pada bank-bank berlangsung seimbang.

BI mengucurkan bantuan likuiditas sebanyak 144,4 triliun. Pada tahun 1999 jumlahnya bertambah hingga Rp 158,9 triliun. Dana ini tenunya diambil dari APBN saat itu, yang mana dana tersebut berasal dari masyarakat karena salah satu sumber pemasukkan terbesar APBN berasal dari pajak yang disetorkan masyarakat kepada Negara. Dengan kata lain, masyarakatpun ikut menanggung permasalahan perbankan pada saat itu.

Atas perintah DPR, BPK melakukan audit investigasi terhadap penyaluran dana BLBI oleh BI serta penggunaan dana oleh 48 bank tersebut. Hasil dari audit itu mengungkap berbagai dugaan penyimpangan dalam penyaluran dan penggunaan BLBI. Terhadap dugaan penyimpangan dalam penyaluran dan penggunaan BLBI diketahui bahwa dari total dana yang dikucurkan sebesar Rp. 144,5 triliun, hanya Rp. 6,1 triliun saja yang benar-benar disalurkan oleh BI kepada bank. Sehingga timbul potensi kerugian Negara sebesar Rp. 138,4 triliun. Selain dugaan penyimpangan diatas, audit BPK juga menemukan dugaan penyimpangan yang lain, diataranya ialah pelanggaran batas maksimum pemberian kredit (BMPK), penggelembungan nilai asset olah para obligor BLBI (48 bank yang diberika dana BLBI) dan pemberian fasilitas oleh BI yang mengizinkan perbankan untuk tetap mengikuti proses kliring walaupun rekening gironya di BI bersaldo negative.

Hingga saat ini, obligor BLBI belum juga dapat mengembalikan 100% dana pinjaman. Bahkan kondisi bank-bank tersebut tidak kunjung membaik. Namun, pemerintah tetap enggan untuk melikuidasinya, pemerintah justru kembali menyuntikkan dana sebesar Rp. 400 triliun sehingga total dana yang dikucurkan ialah Rp. 650 triliun. Terlalu berlebihan rasanya jika uang sebanyak itu harus dikeluarkan Negara kepada para pemilik bank yang kemudian diklaim pemerintah sebagai “ongkos krisis”.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Negara sangatlah dirugikan. Tindakan-tindakan pemerintah tersebut mungkin sering kali luput dari perhatian kita, bahkan mungkin terkesan tidak penting untuk diketahui karena bersifat “elitis”. Padahal, sebenarnya kasus ini sangatlah terkait dengan kesejahteraan rakyat. Dana ratusan triliun yang seharusnya dapat dialokasikan untuk sektor-sektor lain yang lebih membutuhkan, seperti kesehatan, pendidikan, dan peningkatan produksi pangan justru disalahgunakan oleh pihak-pihak yang sangat tidak bertanggung jawab. Rakyat bahkan harus menanggung kerugian akibat penyalahgunaan tersebut.

Penghentian pengusutan semua kasus BLBI oleh Kejaksaan Agung baru-baru ini adalah cerminan betapa tidak adanya itikad baik dari pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ini. Sudah 10 tahun kasus ini bergulir secara berlarut-larut, namun penyelesaiannya sungguh diluar harapan masyarakat. Sebuah tindakan yang terlihat “tidak penting” atau tidak menarik bagi kita ternyata dapat merampas hak adik-adik kita untuk sekolah, merampas hak-hak saudara-saudara kita untuk mendapatkan layanan kesehatan, mengurangi jatah subsidi, dan hak-hak yang seharusnya dipenuhi oleh Negara demi kemakmuran rakyat. Dana BLBI hakikatnya adalah uang rakyat, penyelewengan terhadapnya adalah penyelewengan terhadap rakyat!!!

mate

Diarsipkan di bawah: guys — live42day @ 7:13 pm

Is there someone out there for me?

I know he’s waiting so patiently

Can you tell me his name?

How does he laugh?

How does he cry?

What’s the color of his eyes?

Does he even realize I’m here?

It’s cold outside, waktu dah nunjukkin pukul 02.30 tapi saiah ngga juga bisa nutupin mata. Sebuah lagu yang dinyanyikan J. roman featuring Saluna tadi tiba-tiba nongol gitu aja di kepala. Bikin saiah berwondering bakalan kaya apa siy soulmate saiah nanti? Have you ever felt that way???

Kata orang siy mate kita adalah seseorang yang bakalan bikin hidup kita jadi balance, cz masing-masing saling memenuhi kekurangannya dan berbagi kelebihannya. Hmmm…kedengerannya klise rite? Tapi it does happen loh, ini juga kejadian ama kedua orang tua saiah…

Ayah yang introvert ketemu sama mamah yang super extrovert

Ayah yang tremendously smart ketemu sama mamah yang biasa-biasa aja (baca: belet hehe piss mah!!!)

Ayah yang aga lelet ketemu sama mamah yang extra gesit

Ayah yang sabar ketemu sama mamah yang gampang jengkel

Ayah yang senang menabung (baca: medit hehe piss yah!!!) ketemu sama mamah yang extremely loyal

See…sometimes it’s funny to see how the world works, rite? Jadi salah banget kalo ada orang bilang carilah mate yang banyak punya kesamaan ama diri kita sendiri. Almost impossible dong nyari orang kaya gitu, wong orang kembar identik aja ngga bakalan punya visi misi hidup yang sama!? Dosen neurology saiah pernah bilang kalo otak kita itu menyimpan kekuatan yang extremely massive. Hampir ngga mungkin menyatukan dua kekuatan yang luar biasa besarnya itu loh, pasti ada konflik yang terjadi. Sampai kasarnya dosen itu pernah bilang “if there is couple that survives until their elderly or even until their dying day, one of them must be brainless!”. Hakhakhak…punten yeuh…ngga maksud menyinggung, brainless disini means harus ada yang mau ngalah, jangan tetep pada egonya sendiri. Harus ada keseimbangan, titik equilibrium itu harus tercapai kalo pengen awet bin langgeng sama matenya sampai tua nanti.

Hmmm…saiah jadi makin penasaran niy,I’m dying to know…

Adakah orang rajin yang bakalan mengimbangi kemalesan saiah?

Adakah orang hemat yang bakalan membendung keborosan saiah?
Adakah orang sabar yang bakalan memecahkan kekeras kepalaan saiah?

Yeahh…my mate somewhere out there must be felt d same way, it’s just a matter of time until we’ll meet rite?

Hakhakhak ngalamun buu…

Blog pada WordPress.com.